Aktivis pendidikan dan lingkungan Sonam Wangchuk tetap melanjutkan mogok lapar di Jantar Mantar meski kesehatannya menurun setelah 16 hari tidak makan. Wangchuk, 59 tahun, dilaporkan kehilangan 8,2 kilogram dan mengalami penurunan tekanan darah serta kadar gula yang mengkhawatirkan.

Menurut laporan kesehatan yang dirilis pada Senin, tekanan darah Wangchuk tercatat 107/70 dan kadar gula darah turun menjadi 67. Kondisi fisiknya memicu kecemasan dari para pendukung yang mendesak agar ia menghentikan aksi itu demi keselamatan, namun Wangchuk memilih untuk bertahan sampai tuntutan protes mendapat respons yang dianggap layak.
Keadaan kesehatan selama mogok lapar
Tim medis yang memantau Wangchuk menyatakan penurunan berat badan dan gejala yang semakin jelas, termasuk pusing hebat setiap kali ia berusaha berdiri atau duduk. Abhijeet Dipke, pendiri gerakan yang mengorganisasi aksi tersebut, menyebutkan bahwa Wangchuk kini sulit berjalan bahkan untuk menuju kamar kecil dan dokter telah memperingatkan risiko serius jika mogok lapar diteruskan.
Wangchuk sendiri menegaskan keteguhannya: “Saya lemah dari luar, tetapi saya kuat dari dalam. Saya perlu meneruskan apa yang telah saya mulakan sehingga mencapai kesimpulan yang sewajarnya.” Pernyataan itu menggambarkan tekadnya untuk mempertahankan protes sampai ada tindak lanjut dari pihak yang dituju.
Tuntutan protes dan respons pemerintah
Aksi yang berlangsung di Jantar Mantar itu diinisiasi oleh gerakan satir daring Cockroach Janta Party (CJP) yang dipimpin Abhijeet Dipke. Mereka menuntut reformasi pada sistem pendidikan dan mendesak Menteri Pendidikan, Dharmendra Pradhan, mengundurkan diri menyusul pembatalan ujian masuk mahasiswa kedokteran pada Mei akibat bocornya soal ujian.
Penganjur berargumen bahwa Pradhan harus memikul tanggung jawab moral atas insiden kebocoran soal tersebut. Namun, sang menteri menolak tuntutan tersebut dan menyebut CJP serta pendukungnya sebagai kelompok yang tidak percaya pada kemajuan negara, sehingga menolak untuk mundur atau membuka dialog sesuai permintaan pengunjuk rasa.
Suasana di Jantar Mantar dan dukungan publik
Meski suhu di New Delhi dilaporkan mencapai 38 derajat Celsius dengan suhu terasa hampir 46 derajat, ratusan pendukung tetap berkumpul siang dan malam di lokasi protes untuk menunjukkan solidaritas terhadap Wangchuk dan tuntutan reformasi. Kehadiran mereka menunjukkan keprihatinan publik atas kondisi kesehatan sang aktivis dan permasalahan yang diangkat.
Peran Wangchuk dan latar perjuangan
Sonam Wangchuk dikenal luas sebagai pendidik, insinyur, dan aktivis iklim dari wilayah Ladakh di Himalaya. Ia mendapat pengakuan internasional atas inovasi seperti ‘Ice Stupa’, sebuah gletser buatan berbentuk kerucut yang menyimpan air pada musim dingin dan melepaskannya saat musim semi untuk membantu petani menghadapi kekurangan air.
Sumbangan Wangchuk di bidang pendidikan dan lingkungan membuatnya menerima berbagai penghargaan bergengsi, termasuk Ramon Magsaysay Award pada 2018. Ia juga diakui publik karena menjadi inspirasi bagi tokoh utama dalam sebuah film Bollywood populer pada 2009, yang menambah profilnya di mata masyarakat luas.
Langkah berikutnya penganjur protes
Sejak mogok lapar dimulai pada 29 Juni, sejumlah tokoh politik, aktivis, dan pempengaruh media sosial telah mengunjungi lokasi aksi untuk menyatakan dukungan. Namun penganjur menyatakan belum ada wakil dari partai pemerintahan yang menunjukkan minat atau hadir untuk membuka dialog.
Menanggapi minimnya respons dari pihak berwenang, penganjur merencanakan untuk menggelar arak-arakan menuju gedung Parlemen pada 20 Juli, bertepatan dengan pembukaan sidang parlemen yang baru. Mereka berharap aksi tersebut dapat meningkatkan tekanan agar pemerintah mengambil langkah yang lebih tegas demi menegakkan akuntabilitas dalam sistem pendidikan.
Sampai saat laporan terakhir, Wangchuk tetap pada keputusannya untuk melanjutkan aksi mogok lapar sebagai bentuk protes damai, sementara kekhawatiran atas kondisi kesehatannya terus meningkat di kalangan pendukung dan pemantau kesehatan.

