Fenomena “malu guna Melayu” tampak jelas ketika kita menilik papan nama projek pembangunan baru di berbagai bandar. Tidak hanya di ibu kota, tetapi juga di Johor Bahru, Pulau Pinang, Melaka dan beberapa negeri lain, muncul nama-nama komersial yang bercorak bahasa Inggris, seperti The Residences, The Heights, The Valley, Central Park, Lake View, Skyline, Boulevard, Eco Grandeur, dan Green Avenue.

Persebaran nama-nama berbahasa Inggris itu mencipta sebuah pola yang sukar dilepaskan dari pengamatan: hampir setiap projek perumahan, gedung komersial atau kawasan campuran menampilkan istilah-istilah asing sebagai identitas penjualan. Fenomena ini memunculkan pertanyaan mendasar tentang posisi bahasa Melayu dalam ruang awam yang berkembang pesat.
Malu guna Melayu: jejak di papan nama projek
Apabila papan-papan penanda projek lebih sering menampilkan istilah asing, kesan yang tertinggal adalah bahasa Melayu mengalami marginalisasi dalam konteks komersial tertentu. Nama projek seperti Central Park atau Lake View, yang tampak akrab dan dianggap modern, dipilih secara konsisten oleh para pemaju. Pola ini bukan sekadar soal estetika; ia juga berkaitan dengan citra yang mahu ditampilkan kepada pembeli dan pelabur.
Pengaruh citra dan persepsi pasaran
Banyak pihak mengaitkan bahasa dengan citra—bahasa asing sering dipandang membawa unsur moden, elit atau berkelas antarabangsa. Dalam praktik pemasaran, pemilihan nama projek kerap ditentukan oleh kajian pasaran dan strategi penjenamaan. Namun begitu, pilihan nama berbahasa Inggris yang berulang-ulang menimbulkan persoalan apakah nilai kebudayaan dan identiti bahasa tempatan turut dipertimbangkan dalam proses itu.
Identitas bahasa vs. strategi pemasaran
Ketegangan antara identitas bahasa dan strategi pemasaran menjadi nyata ketika setiap projek berlomba menampilkan diri sebagai sesuatu yang ‘global’ atau ‘mewah’. Nama-nama seperti Eco Grandeur atau Skyline memberi nuansa tertentu yang diharapkan menarik perhatian segmen pasar tertentu. Di sisi lain, sedikitnya penggunaan istilah Melayu pada papan nama menimbulkan perasaan bahwa bahasa kebangsaan kurang mendapat tempat dalam penentuan identitas ruang yang baru.
Dampak pada ruang awam dan budaya setempat
Ketika bahasa tempatan kurang terwakili di ruang awam komersial, konsekuensinya tidak hanya estetika. Bahasa adalah pembawa budaya, riwayat, dan memori kolektif. Pengurangan penggunaan bahasa Melayu pada nama-nama projek yang kini menjadi bagian dari peta kota berpotensi melemahkan hubungan generasi dengan unsur-unsur kebudayaan yang termaktub dalam bahasa.
Sikap memilih nama projek berbahasa Inggris juga dapat mempengaruhi persepsi generasi muda terhadap bahasa kebangsaan. Jika ruang-ruang kehidupan sehari-hari—seperti kawasan perumahan, pusat perbelanjaan, dan kawasan rekreasi—sering kali ditandai dengan nama asing, maka paparan terhadap istilah tempatan bisa berkurang dalam praktik sosial harian.
Penting dicatat bahwa wacana ini bukan sekadar soal nostalgia atau kebanggaan simbolik. Ia menyentuh bagaimana sebuah masyarakat menegaskan nilai dan identitasnya dalam proses pembangunan serta bagaimana bahasa berfungsi sebagai elemen pengikat sosial. Pertanyaan tentang pilihan nama projek seharusnya juga menjadi bagian perbincangan publik mengenai arah pembangunan budaya dan kota.
Perbincangan tentang fenomena ini membuka ruang untuk refleksi: apakah pemaju, pemangku kepentingan bandar, dan masyarakat cukup peka terhadap konsekuensi penggunaan nama asing pada identitas tempatan? Apakah terdapat alternatif pemilihan nama yang tetap menggugah aspirasi pasaran tanpa mengabaikan bahasa Melayu? Pertanyaan-pertanyaan tersebut relevan ketika nama projek tidak hanya menjadi label komersial, tetapi juga bagian dari narasi kota yang akan diwariskan.
Terakhir, mengenali pola penamaan yang dominan memberi peluang untuk diskusi lebih luas antara dunia perniagaan, ahli bahasa, pembuat dasar dan masyarakat umum. Perbincangan itu penting agar keputusan penamaan ruangan publik mempertimbangkan nilai ekonomi sekaligus kepentingan budaya dan bahasa kebangsaan.

