Menteri Kebudayaan Dr. H. Fadli Zon, S.S., M.Sc., mendorong generasi muda untuk kembali mencintai puisi kebudayaan sebagai bagian penting pembangunan karakter dan penguatan identitas nasional. Ajakan itu disampaikan saat ia memberikan sambutan dalam Perayaan Hari Puisi Indonesia 2026 yang digelar di Graha Utama, Gedung A Lantai 3, Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah, Jakarta.

Menurut Fadli Zon, puisi bukan sekadar rangkaian kata, melainkan bentuk ekspresi budaya yang mampu merekam pengalaman manusia dan pergulatan zaman. Ia menekankan bahwa puisi juga menyediakan ruang refleksi yang memperkaya kehidupan, sehingga perlindungan dan pengembangan ekosistem sastra menjadi hal yang mutlak dilakukan.
Peran puisi kebudayaan dalam pembangunan karakter
Dalam sambutannya, Fadli Zon menegaskan pentingnya puisi sebagai medium yang memperkuat bahasa dan nilai-nilai kemanusiaan. “Kita berharap Hari Puisi Indonesia semakin mampu menarik minat generasi muda. Indonesia memerlukan penyair-penyair baru yang akan melanjutkan estafet sastra nasional,” ujarnya. Pernyataan itu menggambarkan fokus kementerian pada regenerasi insan sastra guna menjaga kelangsungan tradisi literasi di tengah dinamika zaman.
Komitmen pemerintah dan landasan hukum
Fadli Zon menegaskan bahwa pemerintah berkomitmen menjalankan amanat konstitusi untuk memajukan kebudayaan nasional sebagaimana diatur dalam Pasal 32 Undang-Undang Dasar 1945 dan Undang-Undang Nomor 5 Tahun 2017 tentang Pemajuan Kebudayaan. Dalam kerangka itu, sastra mendapatkan perhatian melalui berbagai program pembinaan, pengembangan talenta, serta promosi di tingkat nasional dan internasional.
Program pembinaan dan pengembangan talenta
Sebagai bagian dari upaya menemukan dan membina para sastrawan, Kementerian Kebudayaan mengembangkan Manajemen Talenta Nasional yang mencakup lima bidang seni: film, musik, seni pertunjukan, seni rupa, dan sastra. Melalui program ini, pemerintah berupaya membuka peluang agar karya dan karyawan Indonesia dapat tampil di berbagai forum sastra dunia.
Selain itu, Fadli Zon menyebut sejumlah program yang dirancang untuk memperluas akses masyarakat terhadap kebudayaan, antara lain Belajar Bersama Maestro, program Seniman Masuk Sekolah, penguatan festival sastra daerah, lomba sastra berbasis digital, serta pengembangan karya seni melalui media baru (new media art). Menurutnya, upaya-upaya itu penting untuk menciptakan ruang kreatif yang berkelanjutan bagi talenta-talenta muda.
Modal budaya dan potensi sastra Indonesia
Fadli Zon menilai Indonesia memiliki modal budaya yang sangat besar berkat keberagaman suku, bahasa, dan tradisi yang tersebar dari Sabang hingga Merauke. Kekayaan tersebut, kata dia, menjadi sumber lahirnya talenta-talenta sastra yang berpotensi berbicara di tingkat dunia apabila didukung ruang kreatif dan pembinaan yang konsisten.
Dalam pidatonya, ia juga membagikan pengalaman kunjungan ke rumah-rumah para sastrawan dunia sebagai bentuk penghormatan terhadap warisan intelektual. Ia menyinggung kunjungannya ke tempat-tempat yang berkaitan dengan tokoh-tokoh seperti William Shakespeare, Fyodor Dostoevsky, John Keats, hingga Pablo Neruda sebagai contoh bagaimana bangsa-bangsa maju merawat warisan sastra mereka.
Penghargaan dan harapan untuk penyair baru
Menutup sambutannya, Fadli Zon menyampaikan ucapan selamat kepada LK Ara sebagai penerima Anugerah Kepenyairan Adiluhung 2026. Ia berharap penghargaan tersebut dapat menjadi inspirasi bagi lahirnya penyair-penyair baru yang turut memperkaya khazanah sastra Indonesia serta memperluas jangkauan puisi dalam kehidupan publik.
Perayaan Hari Puisi Indonesia 2026 diharapkan menjadi momentum untuk meneguhkan kembali posisi puisi sebagai kekuatan budaya yang mampu mempererat kemanusiaan, merawat bahasa, dan membangun peradaban bangsa. Dengan dukungan program-program pembinaan dan perluasan akses kebudayaan, kementerian berharap minat generasi muda terhadap puisi akan terus meningkat dan melahirkan generasi penulis yang menjaga serta mengembangkan tradisi sastra nasional.
