pelabuhan gyirong - ilustrasi berita 31 meninggal, 531 masih hilang di Pelabuhan Gyirong setelah gelongsoran lumpur

31 meninggal, 531 masih hilang di Pelabuhan Gyirong setelah gelongsoran lumpur

Pelabuhan Gyirong menjadi sasaran gelongsoran lumpur yang terjadi pada 26 Agustus, menewaskan 31 orang dan menyebabkan 531 orang masih dinyatakan hilang hingga pukul 18.00 Jumat. Peristiwa ini melumpuhkan fasilitas pelabuhan serta infrastruktur di kawasan perbatasan China-Nepal di barat daya Wilayah Autonomi Xizang.

pelabuhan gyirong - ilustrasi berita 31 meninggal, 531 masih hilang di Pelabuhan Gyirong setelah gelongsoran lumpur

Pusat Arahan Tindak Balas Kecemasan dan Penyelamat setempat melaporkan tim gabungan menemukan 987 barang pribadi di lokasi kejadian. Kondisi medan yang rusak dan putusnya pasokan listrik memperparah kesulitan dalam upaya penyelamatan dan mitigasi bencana.

Dampak langsung di Pelabuhan Gyirong

Runtuhan es dan batu di wilayah Nepal memicu gelongsoran lumpur yang kemudian menerjang Pelabuhan Gyirong, merusak bangunan serta memutus pasokan listrik di area terdampak. Sebagian ruas jalan tol G216 yang mengarah ke pelabuhan juga rusak parah, sehingga akses darat menjadi sangat terbatas.

Kerusakan infrastruktur ini tidak hanya menghambat akses evakuasi dan masuknya bantuan, tetapi juga menyulitkan pencarian korban. Kondisi medan yang terjal membuat tim darat harus menempuh perjalanan panjang, termasuk berjalan kaki setelah melewati jalur pegunungan yang curam.

Upaya penyelamatan dan kendala lapangan

Meskipun menghadapi kondisi sulit, pihak berwenang segera mengerahkan berbagai sarana evakuasi dan pencarian. Sekitar 2.300 anggota penyelamat dikerahkan, didukung lebih dari 400 kendaraan pencarian dan penyelamatan serta lebih dari 8.000 set peralatan profesional. Selain itu, operasi udara memanfaatkan 24 penerbangan helikopter untuk menyalurkan personel dan peralatan.

Di samping alat berat dan kendaraan, penggunaan teknologi udara tak berawak juga intensif: lebih dari 800 penerbangan drone dilaporkan membantu pemantauan area terdampak. Untuk mencapai lokasi terdalam yang terisolasi oleh kerusakan jalan, tim darat harus menempuh perjalanan hingga 12 jam menyusuri lereng dan baru tiba di titik operasi dengan berjalan kaki.

Pemeriksaan risiko di sepanjang G216 dan pemukiman terdampak

Pemeriksaan yang dilakukan sepanjang koridor penyelamatan di jalan G216 mengidentifikasi 58 lokasi yang berisiko mengalami bencana geologi lanjutan. Temuan ini mendorong otoritas untuk merumuskan langkah pencegahan lebih lanjut guna melindungi tim penyelamat dan warga setempat.

Pihak berwenang juga menyelesaikan pemeriksaan dan penilaian risiko terhadap tiga kampung yang terdampak. Sebagai tindak lanjut, lokasi untuk dua pusat perlindungan darurat sementara sudah dipilih, dan pemerintah membimbing pembangunan fasilitas pemindahan darurat untuk membantu proses evakuasi dan penampungan korban.

Peran tim ahli dan langkah pencegahan susulan

Untuk mengidentifikasi dan mencegah potensi bencana susulan, 172 pakar dan tenaga teknis dari berbagai instansi diterjunkan ke lokasi hingga pukul 16.00 Rabu. Tim ini terdiri atas ahli dari otoritas meteorologi, sumber daya alam, sumber daya air, pengelolaan darurat, serta institusi ilmiah nasional.

Penugasan tim ahli bertujuan melakukan pemantauan kondisi geologi dan hidrometeorologi, mengevaluasi bahaya yang tersisa, serta memberi rekomendasi teknis terkait langkah mitigasi. Upaya ini krusial untuk mengurangi risiko kejadian serupa dan untuk merencanakan penanganan jangka pendek bagi warga yang terdampak.

Skala respons dan kebutuhan lanjutan

Besarnya respon yang dikerahkan mencerminkan urgensi situasi: selain ribuan personel dan ratusan kendaraan, operasi didukung oleh ratusan penerbangan drone serta puluhan penerbangan helikopter yang memfasilitasi pemantauan dan pengiriman logistik. Tim penyelamat terus melakukan pencarian di area yang rusak dan menilai kebutuhan pengungsi serta warga terdampak.

Sementara angka korban yang ditemukan dan barang pribadi yang dikumpulkan terus bertambah, otoritas masih fokus pada upaya pencarian dan mitigasi risiko di lapangan. Pemulihan akses jalan, pemulihan pasokan listrik, serta penyediaan tempat penampungan darurat merupakan prioritas berikutnya untuk mendukung operasi penyelamatan dan meminimalkan dampak bagi penduduk di sekitar Pelabuhan Gyirong.