Dalam acara peluncuran buku dan deklarasi kebangkitan ekonomi, Komisaris Utama Ethos Group Mukit Hendrayatno menyarankan agar Presiden Prabowo Subianto mempertimbangkan penerapan Dua Sayap Soemitronomics sebagai langkah untuk menggenjot perekonomian nasional. Pernyataan itu disampaikan pada Selasa, 4 Agustus 2026, di Auditorium Kantor RRI, Jalan Medan Merdeka Barat, Jakarta Pusat.

Mukit menyampaikan bahwa pemikiran begawan ekonomi Soemitro Djojohadikusumo memiliki cabang basis ekonomi yang relevan untuk dijadikan bahan pertimbangan dalam menyusun kebijakan menghadapi tantangan ekonomi saat ini. Pernyataan itu muncul bersamaan dengan peluncuran buku berjudul “Soemitro Djojohadikusumo Anti Penjajahan” dan deklarasi Hari Kebangkitan Ekonomi Pancasila.
Mukit Hendrayatno dan seruan kebijakan
Sebagai Komisaris Utama Ethos Group, Mukit Hendrayatno menempatkan pemikiran Soemitro sebagai sumber inspirasi yang potensial dalam merumuskan strategi ekonomi. Dalam sambutannya, Mukit menegaskan pentingnya melihat kembali gagasan-gagasan ekonomi yang telah teruji dalam konteks sejarah untuk dijadikan referensi dalam menghadapi dinamika masa kini.
Ia menekankan bahwa rekomendasi ini bukan semata nostalgia intelektual, melainkan sebuah ajakan praktis agar pemikiran klasik yang memiliki relevansi tetap dipertimbangkan oleh pengambil kebijakan tertinggi. Mukit berharap langkah tersebut bisa membantu mempercepat upaya pemulihan dan penguatan ekonomi nasional.
Makna Dua Sayap Soemitronomics
Istilah Dua Sayap Soemitronomics yang digunakan Mukit merujuk pada gagasan-gagasan cabang basis ekonomi dari Soemitro Djojohadikusumo, yang diharapkan dapat saling melengkapi dalam upaya mendorong pertumbuhan. Mukit menyampaikan istilah ini sebagai kerangka berpikir yang perlu dikaji kembali oleh pemerintah dan pemangku kepentingan terkait.
Walau Mukit tidak merinci secara teknis setiap unsur dari kedua sayap tersebut dalam kesempatan itu, ia menegaskan bahwa inti dari pesan tersebut adalah perlunya adaptasi pemikiran ekonomi terpadu yang sesuai dengan kondisi nasional saat ini. Pendekatan yang bersumber dari warisan pemikiran dianggap dapat memperkaya pilihan kebijakan yang ada.
Peluncuran buku sebagai momentum kebangkitan
Acara peluncuran buku “Soemitro Djojohadikusumo Anti Penjajahan” menjadi momen bagi para pengamat dan praktisi ekonomi untuk merefleksikan kembali kontribusi intelektual Soemitro. Mukit menggunakan kesempatan itu untuk mengaitkan warisan pemikiran ekonomi dengan kebutuhan kebijakan masa kini.
Selain peluncuran buku, kegiatan tersebut juga mencakup deklarasi Hari Kebangkitan Ekonomi Pancasila, yang menurut Mukit merupakan salah satu wadah untuk menghidupkan perbincangan tentang arah ekonomi nasional yang berpijak pada nilai-nilai kebangsaan. Pernyataan publik di acara itu dimaksudkan untuk mendorong dialog yang lebih luas antara akademisi, pelaku usaha, dan pembuat kebijakan.
Relevansi pemikiran Soemitro di tengah tantangan
Mukit menggarisbawahi bahwa pemikiran Soemitro sebagai begawan ekonomi tetap relevan ketika negara menghadapi beragam tantangan. Ia menilai kajian terhadap gagasan-gagasan lama dapat memberikan sudut pandang alternatif dalam menyusun langkah-langkah strategis yang diperlukan saat ini.
Dalam konteks ini, ajakan Mukit bukan sekadar untuk mengagungkan tokoh masa lalu, melainkan untuk mengambil pelajaran yang berguna dan menyesuaikannya dengan kondisi kontemporer. Pendekatan demikian dinilai dapat memperkaya diskursus kebijakan ekonomi di tingkat nasional.
Ajakan kepada Pemerintah dan pemangku kepentingan
Dengan dilontarkannya seruan tersebut dalam forum publik, Mukit berharap pemerintah, termasuk Presiden Prabowo Subianto, serta para pembuat kebijakan dan pelaku ekonomi, mau membuka ruang kajian lebih mendalam terhadap ide-ide Soemitro. Ia melihat kesempatan itu sebagai titik tolak untuk mengembangkan solusi yang berbasis kajian historis sekaligus responsif terhadap kebutuhan masa kini.
Para peserta acara berasal dari berbagai latar yang memusatkan perhatian pada isu-isu ekonomi dan kebijakan publik. Momen peluncuran buku digagas sebagai titik temu antara warisan intelektual dan upaya konkret menghadapi soal-soal ekonomi yang menuntut solusi.
Pernyataan Mukit mengenai Dua Sayap Soemitronomics menjadi salah satu agenda penting yang memicu diskusi tentang bagaimana pemikiran klasik dapat diintegrasikan ke dalam kerangka kebijakan modern. Ajakan ini menegaskan kebutuhan dialog berkelanjutan antara warisan pemikiran dan praktik kebijakan untuk merespons tantangan ekonomi nasional.
