Jasad Nirmal Purja ditemukan pada ketinggian sekitar 5.700 meter di Broad Peak, menurut konfirmasi dari tim penyelamat di lapangan. Penemuan itu merupakan bagian dari operasi darat yang dilakukan setelah runtuhan salju menimpa area antara kem pendakian di gunung ke-12 tertinggi dunia di banjaran Karakoram.

Selain jasad Purja, tim juga melaporkan melihat tiga mayat lain di lokasi yang sama. Semua jenazah kini sedang dibawa ke Kem Jepun untuk proses selanjutnya, termasuk identifikasi dan prosedur evakuasi lebih lanjut.
Penemuan jasad Nirmal Purja dan kondisi lokasi
Tim darat berhasil mencapai titik penemuan pada ketinggian sekitar 5.700 meter, di mana kondisi medan dan cuaca masih menantang bagi proses evakuasi. Lokasi tersebut berada di jalur Broad Peak yang terkenal sulit dan rawan longsor salju, sehingga upaya penyelamatan harus dilakukan dengan sangat hati-hati untuk menghindari risiko tambahan.
Menurut laporan dari lapangan, petugas menemukan beberapa tubuh di lokasi yang sama. Proses pengangkutan jenazah ke Kem Jepun sedang berlangsung, di mana petugas akan melakukan prosedur standar untuk verifikasi identitas dan koordinasi pemulangan jenazah ke keluarga atau negara asal masing-masing korban.
Korban yang sudah teridentifikasi
Perusahaan ekspedisi milik Purja mengonfirmasi bahwa ia dan sembilan anggota lainnya tewas akibat runtuhan salju tersebut. Beberapa nama korban yang telah teridentifikasi antara lain Mallory Geis dari Amerika Serikat, Nadhira Ahmed Abdullah Al Harthy dari Oman, serta Pur Bahadur Gurung dari Nepal. Identitas tiga mayat tambahan yang ditemukan di lokasi penemuan awal masih dalam proses verifikasi.
Pihak berwenang dan tim ekspedisi terus bekerja untuk memastikan semua korban diidentifikasi secara akurat dan proses administrasi serta medis dilaksanakan sesuai prosedur. Informasi tentang status korban lainnya akan diumumkan setelah proses identifikasi selesai.
Profil singkat Nirmal Purja
Nirmal Purja, yang berusia 43 tahun, adalah warga negara Inggris kelahiran Nepal dan dikenal luas di komunitas pendakian dunia. Dia pernah mengabdi selama 16 tahun di Tentara Inggris, termasuk 10 tahun di pasukan khusus. Purja mencetak rekor dunia pada 2019 ketika berhasil mendaki keempat belas gunung yang tingginya melebihi 8.000 meter dalam waktu 189 hari.
Pencapaian itu kemudian menjadi bahan dokumenter berjudul 14 Peaks: Nothing Is Impossible. Keberhasilan dan kisah hidupnya menarik perhatian internasional, dan beberapa tokoh dunia memberi penghargaan atas kontribusi dan semangat inspiratif yang ditunjukkannya bagi komunitas pendakian global.
Respon dan duka dari komunitas internasional
Kematian Purja serta korban lainnya menarik perhatian internasional dan menimbulkan duka mendalam di kalangan pendaki serta pejabat negara terkait. Perdana Menteri Nepal menyebut tragedi ini sebagai kehilangan besar bagi komunitas pendakian dunia, mengingat banyak korban berasal dari Nepal dan negara lain yang berpartisipasi dalam ekspedisi tersebut.
Reaksi belasungkawa juga datang dari tokoh-tokoh internasional yang menyoroti posisi Purja sebagai salah satu pendaki terkemuka dan sosok yang menginspirasi banyak orang. Pernyataan-pernyataan tersebut mencerminkan besarnya dampak peristiwa ini terhadap masyarakat pendaki dan publik secara lebih luas.
Langkah selanjutnya dalam proses evakuasi
Evakuasi jenazah dan proses identifikasi menjadi prioritas utama tim penyelamat di lokasi. Setelah dibawa ke Kem Jepun, jenazah akan melalui serangkaian pemeriksaan untuk memastikan identitas masing-masing korban sebelum koordinasi pemulangan dilakukan. Kondisi medan dan potensi cuaca ekstrem masih menjadi kendala yang dihadapi petugas di lapangan.
Pihak penyelenggara ekspedisi dan otoritas lokal terus memberikan informasi terbaru kepada keluarga korban dan publik. Para ahli serta tim lapangan akan menilai kondisi rute dan memastikan tidak ada risiko berlanjut sebelum kegiatan pemulangan dan penanganan jenazah diselesaikan.

